:: 2D, 3D and the latest HD ::

Thursday, October 28, 2010

surprise???

Lan, are you free this evening? Can you send me back this evening? Because someone borrowed my car today.”

That was the starting of the drama. Willingly, I agreed to send Reez Imran (his fb id) back to his house at Taman Pekaka, near Tesco Extra, Sg. Dua, Penang. He came at my room Am 212 and acted perfectly as normal as he always did. After Asar prayer, I sent him back with my AGM 780* (actually it is 7780 but the plate number was broken and I did not want to change it for the 5/6th times)

I was quite surprise when he told me that Idham and Firdaus (my junior usrah members) borrowed his car to go somewhere. I just wonder how they had the gut to borrow his car to go somewhere else without taking him along. (And without informing or taking me along!!) Suddenly, I started to think badly about them. They might go somewhere with their girlfriends. (Astaghfirullah..) All kind of bad situations came to my mind along the short journey to Haris’s house. (Sorry friends..)

When we stopped for the red traffic light about 100 metres from the Taman Pekaka, suddenly Abg Haris said to me,

“Lan, I am sorry if I have done anything that makes u uncomfortable with. Especially about that thing* (secreto…hehe)

Still surprising and shocking with that honest statement, I responded hesitantly:

“Eh, no lah, xdak paa haih… besa rr…xdak pa…xdak pa”

We passed through a greenly field of Taman Pekaka that soothed my heart and made me felt thankful to Abg Haris for asking me to send him back. Unexpectedly, he asked me to drop by at the only “pergola” at the field.

Then, I saw the familiar faces in IPG Kampus Pulau Pinang which were my usrah members!!! Next, everything revealed the real drama. Abg Haris’s car, firdaus’s and amir’s motorcycles, some polystyrene (which they must contained food) and drinks.

“Actually, this gathering is conducted specially for Azlan, because as we all know, he is going to OZ soon and will not be with us anymore for next years.”

*touching mode*

*starting to touch my eyes that were not so ache*

Everyone started to give their advices and “amanat”.

Belajaq elok2!

Jgn tinggal solat!

Jaga iman elok2, kat sana nanti pompuan seksi2!

Terima kasih kerana bersabar dengan karenah kami yang selalu x attend usrah.

Thx kerana membangunkan usrah kita ini.

Moga bertemu jodoh

*I like this statement the most… haha..

A lot of pictures were taken by using Firdaus’s handphone cam. That was the only one I regretted on that day because I could not save the memorable memories in the proper way.

Abg haris continued :

“And on behalf of every member of our usrah, please receive this as our token of appreciation for being with us for almost one sem.”







*touching mode and tried my best to control my macho-ness by not letting any tears dropped from my eyes*

Thanks you guys. Our usrah has taught and changed me a lot in many ways. Hopefully, the ukhuwah that we build together will not end here but remains forever.

Abg Haris Imran, Abd Rahim Yahya, Firdaus, Amir, Zimam, Faiq, Irfan, Afiq 1, Afiq 2, Idham, Helmi and Hafiz.

Love you all  =)

Wednesday, October 27, 2010

Learn to believe…



I have realized how true this statement is such for a long time. And I kept reminding myself to apply it especially when I have been given any task or responsibilities to hold. In my institute arena, I started holding responsibilities (non academic responsibilities) when I joined PAI which stands for Persatuan Agama Islam in 2008. From an ordinary member of Dakwah and Tarbiah Biro in 2009, I got the trust from the highest committee of PAI to be the Ibadah and Surau Exco in 2010. Meanwhile, I had been selected as JPP which is the acronym of Jawatankuasa Perwakilan Pelajar 2010. All these responsibilities and positions kept me busy along the year until I do not realize that my roles almost arrive to the end.

I did present the weaknesses and strengths of my committee in a post mortem of a big event of institute. Right after I finished presenting it, one of the lecturers responded.

“First of all, I think all of us should thank Roslan (Azlan) for finishing his responsibilities completely. I do hope that I manage to get another 100 guyS like Roslan (Azlan) to be with me in the future. But, I do not like his working style! He just want to complete his tasks, by hook or by crook, at the end of that day, he wants to see all his work done. However, doing it alone is not the most appropriate way. He was the one who brought the tables and chairs and other equipments. How about the rest? I am not blaming him a hundred percent because his committee members were not so good enough (in completing their works) For me, It’s the attitude problem of our students.”

Then, the chairman of that post mortem said, 

“One man show huh?”

Frankly speaking, I am not the one who can believe others easily. If u want me to believe in you, you need to prove your abilities to me. For me, trust and respect is not given, it is gained and earned. I know, witty people will say like this,

“But, if you don’t give me any opportunities, how am I / are we going to prove it??”

This is why we need to be brilliant in many aspects besides academic. Before we give any huge responsibilities to others, we will test them right? So do I. The tests would not be like SPM or on paper examination, it is how we interact with people. From our communication we can know (judge) people whether they deserve our trust or not. So, those people who I trust, congratulation for passing the examinations.

I do trying to learn trusting others so that they would trust me back. But, obviously I do not “khatam” this chapter yet. Still, there is a long way to go.

Friday, October 22, 2010

marah itu lemah~

"uztaz, saya ni cepat sangat marah akhir2 ni uztaz... saya pun dah tak tau nak buat macam mana uztaz.."


"Atan, marah itu lumrah manusia. hatta nabi SAW pun marah. Sapa yang xtau nak marah bukan manusia. Apa yang boleh ATAN buat adalah mengawal bukan membuang marah. Nabi SAW juga menunjukkan kemarahan Baginda seperti memerahkan muka dan sebagainya. Nabi SAW tidak bertindak secara melulu...



Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengatakan, “Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang baik adalah mereka yang marah namun bisa menahan dirinya.”


marah ni ada dua, 
marah yang mahmudah (terpuji)
dan marah yang mazmumah (yang dikeji)


jadi renung balik kenapa kita marah. adakah kita marah kerana Allah SWT Taala atau kerana nafsu?






dalam satu majlis yg turut disertai oleh Nabi SAW, Saidina Abu Bakar dimaki hamun oleh seorang sahabat lain. Walaupun dihina, Saidina Abu Bakar hanya mendiamkan diri. hanya selepas beberapa lama dihina barulah Saidina Abu Bakar membalas cercaan sahabat itu.. dan ketika itu juga nabi SAW keluar daripada majlis itu..."




maka, Saidina Abu Bakar bertanya mengapa Baginda keluar daripada majlis itu.. Baginda SAW menjawab, 
"ketika engkau membalas kata-katanya, ku lihat syaitan datang ke majlis ini dan aku tidak mahu berada dalam majlis yang ada syaitan di dalamnya"



adalah hak Saidina Abu Bakar untuk membalas kembali cercaan sahabat itu tadi namun Nabi SAW lebih suka jika beliau mendiamkan diri.



Allah berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran :133-134).



Daripada Abu Hurairah, bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah, “Berwasiatlah kepadaku.” Beliau bersabda, Jangan menjadi seorang pemarah”. Kemudian diulang-ulang beberapa kali. Dan beliau bersabda, “janganlah menjadi orang pemarah.” (HR. Bukhari).



Rasulullah bersabda, “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gusti tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari Muslim).



Orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya. Kata al-Kazhimiin berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik.



Dari Anas Al Juba’i, bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.” (HR. Ahmad).



Rasulullah tidak pernah marah jika celaan hanya tertuju pada pribadinya dan Baginda SAW sangat marah ketika melihat atau mendengar sesuatu yang dibenci Allah, maka beliau tidak diam, beliau marah dan berbicara. Ketika Rasulullah melihat kelambu rumah Aisyah ada gambar makhluk hidupnya (yaitu gambar kuda bersayap) maka merah wajah Beliau dan bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang membuat gambar seperti gambar ini.” (HR. Bukhari Muslim).







Nabi Shalallahu alaihi wasallam juga marah terhadap seorang sahabat yang menjadi imam solat dan terlalu panjang bacaannya dan beliau memerintahkan untuk meringankannya. Tetapi RasuluLlah صلى الله عليه وآله وسلمtidak pernah marah karena peribadinya.



RasuluLlah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda : artinya : “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu berbicara yang benar ketika marah dan ridha.” (Hadits shahih riwayat Nasa’i) Al Imam Ath Thabari rahimahullah meriwayatkan hadits Anas : “Tiga hal termasuk akhlak keimanan yaitu : orang yang jika marah kemarahannya tidak memasukkan ke dalam perkara batil, jika senang maka kesenangannya tidak mengeluarkan dari kebenaran dan jika dia mampu dia tidak melakukan yang tidak semestinya.” Maka wajib bagi setiap muslim menempatkan nafsu amarahnya terhadap apa yang dibolehkan oleh Allah سبحانه وتعالى, tidak melampaui batas terhadap apa yang dilarang sehingga nafsu dan syahwatnya menyeret kepada kemaksiatan, kemunafikan apalagi sampai kepada kekafiran.


habis nak buat macam mana??



Cara Menghilangkan Kemarahan


Lalu, bagaimanakah cara mengendalikan MARAH tersebut? RasuluLLah صلى الله عليه وآله وسلم mangajarkan cara-cara menghilangkan kemarahan dan cara menghindari kesan negatifnya, diantaranya adalah:

  1. Membaca ta’awudz ketika marah.
    Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim rahimakumullah meriwayatkan hadits dari Sulaiman bin Surod Radliyallahu ‘anhu : “Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi Shalallahu alaihi wasallam dan kami sedang duduk di samping Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم . Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan sampai memerah wajahnya. Maka Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم bersabda : Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan : ‘Audzubillahi minasy Syaithani rrajiim’. Maka mereka berkata kepada yang marah tadi : Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan nabi? Dia menjawab : Aku ini bukan orang gila.”

  2. Dengan duduk
    Apabila dengan ta’awudz kemarahan belum hilang maka disyariatkan dengan duduk, tidak boleh berdiri. Al Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri duduklah, jika belum hilang maka berbaringlah.” Hal ini karena marah dalam berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih jauh lagi dari duduk dan berdiri.

  3. Tidak bicara
    Diam tidak berbicara ketika marah merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kemarahan, karena banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan dirinya dan orang lain. Dalam hadits disebutkan :“Apabila diantara kalian marah maka diamlah.” Beliau ucapkan tiga kali. (HR. Ahmad)

  4. Berwuduk
    Sesungguhnya marah itu dari setan. Dan setan itu diciptakan dari api maka api itu bisa diredam dengan air, demikian juga sifat marah bisa diredam dengan berwudlu. RasuluLlah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda : ”Sesungguhnya marah itu dari syaithan dan syaithan itu dicipta dari api, dan api itu diredam dengan air maka apabila diantara kalian marah berwudlulah.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dengan sanad hasan)
  5. Sesungguhnya marah itu berasal dari setan dan setan diciptakan dari api, dan api hanyalah dapat dipadamkan dengan air.  Apabila di antara kalian marah, hendaklah berwudlu.”[HR. Ahmad dan Abu Daud]


"Ya Rabbi, saksikanlah pengakuanku bahawa aku hamba yang sangat lemah."



Saturday, October 16, 2010

entertainment, cant we?

there are people who always give this kind of response towards those who are trying in get some entertainment in life...


lets specify the entertainment aspect..

what kind of entertainment?

that ones that follow the Syariah rules...

*or have khilaf among ulama'




Arakian berkata seorang pengunjung di blog saya:

 Setuju dgn ummuhanah..tak sampai hati rasanya untuk ke konsert dlm keadaan saudara kita di Palestine , Pakistan ..mengalami kepayahannya yang bukan sedikit..

Sekonyang-konyang, ini jawapan tuan rumah:

 Kalau nak fikir begitu tuan, usahkan konsert. Sesuap nasi pun tidak layak masuk ke mulut kita tanpa rasa malu
kepada saudara di Palestin.

 Namun bukan itu sifir agama.


Semasa Nabi SAW berlumba lari dengan Aisyah, semasa para sahabat berbaling-baling kulit tembikai, semasa Nuaiman berlawak dengan Suwaibit, semasa Nabi SAW menonton permainan pedang di halaman masjid, semasa syair dan kata-kata yang indah diungkapkan oleh Abu Ubaidah dan lain-lain, apakah semasa itu umat tiada masalah? Apakah ketika itu semua sahabat bersama dengan Nabi SAW lagha kerana lupa dengan ancaman kuffar serta kesusahan hidup muhajirin selaku pendatang di Madinah?


Sesungguh seperti kata Nabi SAW, “ada masa untuk itu ada masa untuk ini”.


Jika tidak sesuai dengan jiwa kita, tidak mengapa. Tetapi jangan menggambarkan ia sebagai suatu kekejian di sisi agama kerana ghuluw itu binasa.

Wallahu A'lam

source : 

Komen Tidak Bertempat

by Hasrizal Abdul Jamil on Saturday, 16 October 2010 at 10:10

Tuesday, October 12, 2010

“My dream comes true”



 That was what I said to myself when I walked out from the Art Tunes Sdn Bhd at Jalan Dato’ Keramat, Penang at 6.15pm on 8 October 2010..
A guitar, that I wished to own it since two months ago had become a reality. The hardship of staying up late at night to sell mee rebus and nasi lemak during Ramadhan ago had been paid off when I managed to play a Spider song, Relaku Pujuk by using that guitar. The first thing that came to my mind when having the first strum was,

 “Wow, the sound is much better than Bagan’s!”

Spending about RM 220 for that acoustic guitar was not my original plan. Initially, I only planned to spend about RM 150 for a guitar, maybe a Kapok brand as suggested by my dad, who encouraged me to buy one when I asked him to borrow a guitar from his friends. However, I didn’t know how I can end up by buying this guitar. I just… attracted to it. That’s all.

I did inform my family members about the news.

Aslmualykum? Juz wanna said that I had bought an acoustic guitar that costed me RM 200( Guess why I changed it? Hehe…) I’ll upload the photos later. =)

Here were the responses that I received from them.

Angah   :  (Instead of replying a msg, he decided to waste his credit by calling me immediately… but i could not remember what he had said about it…)

Bancik   : “Cayalah…!!! RM 200 tuu. Nanti bancik balik (hg) ajaq bancik main gitar plak. Wes, try hg tya        sapa2 yg tau kedai spare parts Yamaha FZ 150s. Bancik nak tukaq part kepala dia tuu, baru nampak macam superbike… (errr… kur…kur…)

Kak Na : “Haa, paa lagi, upload rr cepat nak tengok nii…(ni pun satu, jimat sangat credit fon dia… ader ker main tulis kt fb jer…)
Abah      :Kk. (Short and precise… This is the real man. No emotion shown, juz show the rationality of   mind.)   *source- aku terima nikahnya by Hasrizal Abdul Jamil.

A friend : (I said to her earlier that I’d bought my raya present and asked her to guess it. And this was her reply.)
Baju?
Dah 2? Xkan kasut lagi kot?
Baju? Yang tuu tak yah tunggu raya pon (boleh) beli.
Eh, jap2. GITAR!!!!


Thank to Sufian and Anware for accompanying me to make my virtual guitar >>> a real acoustic guitar.

Thursday, October 7, 2010

::relaku pujuk spider::

this song is a very nice song from the aspects of its lyric and the music arrangement... as what as my sifu said, " Could you see the music pattern of this stanza? the 1st stanza's is like this:



Bm A D


Dikejar bayang-bayang resah
Em F# Bm
Bila hatimu masih tak berubah
Em A D G
Enggan di punya dan di penjara
A D F#
Belaian cintaku ini

(1)
1,2,1,2,1,2,3,4
1,2,1,2,1,2,3,4
1,2,1,2,1,2,1,2
1,2,1,2,1,2,3,4

usually, other songs  (like semua tentang kita by peter pan ) will be repeating the same music arrangement for the whole song including for the chorus part. When my sifu and i skimmed and scanned this song, we noticed that the 2nd stanza's is quite different...

Bm A D
Aku bukan lelaki yang tewas
Em F# Bm
Bisa menyembah walau ku di tolak
Em A D G
Biar di uji kanan dan kiri

A D
Kau kan tetap ku miliki

(2)
1,2,1,2,1,2,3,4
1,2,1,2,1,2,3,4
1,2,1,2,1,2,1,2,
1,2,3,4,1,2,3,4


how abt you? cud you see the differences?
lets look at the chorus...

D A Bm
Tiada lafas yang lebih agung
A D A Bm A
Kalimah cintamu yang ku tunggu tunggu

D A Bm
Biar jasadku yang menanggung
A D A Bm F#
Permainan darimu rela ku pujuk

(3)
1,2,1,2,1,2,3,4
1,2,1,2,1,2,1,2,1,2
1,2,1,2,1,2,3,4
1,2,1,2,1,2,1,2,1,2


amacam?
they (spider) are so great rite???
so, lets play this song...
give me another 3 days then (insyAllAh) i can play this song for you  =)

here i put the full version guitar chord and lyrics for those who want to play and sing this song...

enjoy (^_^)



Bm A D
Dikejar bayang-bayang resah
Em F# Bm
Bila hatimu masih tak berubah
Em A D G
Enggan di punya dan di penjara
A D F#
Belaian cintaku ini


Bm A D
Aku bukan lelaki yang tewas
Em F# Bm
Bisa menyembah walau ku di tolak
Em A D G
Biar di uji kanan dan kiri
A D
Kau kan tetap ku miliki


[Korus]

D A Bm
Tiada lafas yang lebih agung
A D A Bm A
Kalimah cintamu yang ku tunggu tunggu
D A Bm
Biar jasadku yang menanggung
A D A Bm F#
Permainan darimu rela ku pujuk


Bm A D
Janganlah kau salahkan aku
Em F# Bm
Terus memburu menawan cintamu
Em A D G
Daku percaya sedikit masa
A D
Kau kecundang akhirnya


Em F# Bm G
Usahlah kau bersedih di hadapanmu aku hadir
Em F# Bm
Memadam resah dan curiga dari hatimu oh...
Em F# Bm G
Apakah kali ini bisa kau tolak dan berlari
Em F# A
Setelah aku menanamkan azimatku


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...